Kalau Keigo Higashino dan Agatha Christie adalah yang bikin aku jatuh cinta pada misteri, maka Dee Lestari adalah yang bikin aku sadar bahwa penulis Indonesia bisa nulis sesuatu yang benar-benar gila — dalam arti yang paling positif.

pertama kali ketemu Supernova

Aku pertama kali baca Dee lewat Supernova seri pertama: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Dan beneran — itu mindblowing.

Bukan karena ceritanya biasa. Tapi karena cara Dee membangun dunianya itu tidak biasa. Ada lapisan sains di dalamnya, ada filosofi, ada romance, dan semuanya tidak terasa dipaksakan satu sama lain. Aku tidak pernah baca penulis Indonesia yang berani seperti itu sebelumnya.

Yang paling kuingat adalah perasaan setelah selesai baca — seperti habis nonton film yang tidak hanya menghibur tapi juga meninggalkan sesuatu di kepala. Ada yang dipertanyakan, ada sudut pandang baru, ada sesuatu yang menempel lama setelah buku ditutup. Dan itu bukan hal yang gampang dicapai.

tentang Intelegensi Embun Pagi

Jujur, aku termasuk yang kurang merasakan nendangnya di seri terakhir ini.

Mungkin ekspektasiku terlalu tinggi setelah membaca seri-seri sebelumnya. Atau mungkin memang closure-nya tidak semenggetarkan yang aku bayangkan di kepala. Bukan berarti jelek — tapi kalau aku bandingkan dengan perasaan pertama kali baca Ksatria, rasanya berbeda jauh.

Seri pertama punya energi yang segar, seperti ketemu sesuatu yang benar-benar baru. Seri terakhir terasa lebih seperti menutup pintu yang sudah setengah terbuka lama. Mungkin itu memang wajar untuk sebuah penutup seri panjang, tapi tetap saja ada bagian kecil dari aku yang berharap lebih.


Tapi terlepas dari itu, Dee Lestari tetap ada di daftar penulis yang aku hormati. Dia membuktikan bahwa literatur Indonesia tidak harus kalah dengan penulis internasional, dan itu bukan hal yang kecil.